_
OLEH :
KELOMPOK 6
Reni Fauziah (2012.l.1.0020)
Komang Ayu Dian Asri Saraswati (2012.l.1.0021)
I Made Kartana (2012.l.1.0025)
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI
BIMBINGAN DAN KONSELING
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PGRI BALI
2014
MOTTO :
JANGAN PERNAH MENYERAH KARENA SEBUAH KEGAGALAN, KARENA DARI SEBUAH KEGAGALAN ADALAH KUNCI DARI SEBUAH KESUKSESAN.
Kata Pengantar
Puji syukur kami panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa beserta seluruh manifestasinya, karena atas Asung Kertha Wara Nugraha-Nya, kami dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “IMPLEMENTASI LAYANAN INFORMASI BIMBINGAN PRIBADI UNTUK MENINGKATKAN STABILITAS EMOSI PADA SISWA KELAS IX DI SMP NEGERI 10 DENPASAR TAHUN AJARAN 2012/2013”.
Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan studi untuk memperoleh gelar kesarjanaan dalam Bidang Bimbingan Konseling di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) PGRI Bali. Proses penyusunan skripsi ini tidak luput dari berbagai rintangan, hambatan, tantangan dan permasalahan yang dihadapi. Tetapi, berkat petunjuk dan bimbingan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, kerjasama, dorongan, arahan, bantuan, saran dan kritik yang bersifat konstruktif dari berbagai pihak sangat membantu kami sehingga skripsi ini dapat kami selesaikan tepat pada waktunya. Oleh karena itu, sebagai rasa syukur dan hormat kami, melalui kesempatan ini kami menyampaikan ucapan terima kasih serta penghargaan setulus-tulusnya kepada :
Bapak Rektor Dr. I Made Suarta,S.H.M.Hum. IKIP PGRI Bali yang telah menyiapkan fasilitas untuk menimba ilmu di lembaga ini.
Bapak Dr.A.A.Ngurah Adhiputra,M.Pd. sebagai Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan yang sudah banyak membantu selama menuntut ilmu di Fakultas Ilmu Pendidikan jurusan Bimbingan Konseling.
Bapak/Ibu Dosen beserta staf pegawai yang ada di lingkungan jurusan Bimbingan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP PGRI Bali yang telah memberikan bekal pengetahuan, bimbingan dan nasehat-nasehat serta keperluan selama menuntut ilmu.
Siswa-siswa kelas IX SMP Negeri 10 Denpasar atas segala bantuan dan kerja samanya selama kami mengadakan penelitian.
Seluruh rekan-rekan mahasiswa Jurusan Bimbingan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP PGRI Bali beserta Keluarga yang telah banyak memberikan dorongan moral, informasi, fasilitas dan motivasi sehingga penelitian ini dapat terselesaikan dengan baik.
Semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa memberikan karunia atas budi baik dari semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian penelitian ini.
Kami menyadari dengan sepenuhnya bahwa apa yang tersaji dalam penelitian ini masih belum sempurna karena keterbatasan kemampuan kami. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang konstruktif dari pembaca guna menyempurnakan penelitian ini. Akhirnya kami berharap semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan bagi perkembangan dunia pendidikan terutama Bimbingan Konseling dalam masa yang akan datang.
Denpasar, Februari 2015
Peneliti
ABSTRAK
IMPLEMENTASI LAYANAN INFORMASI BIMBINGAN PRIBADI UNTUK MENINGKATKAN STABILITAS EMOSI PADA SISWA KELAS IX DI SMP NEGERI 10 DENPASAR TAHUN AJARAN 2012/2013
Peneliti
_
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan stabilitas emosi siswa melalui layanan informasi bimbingan pribadi di kalangan siswa kelas IX. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 10 Denpasar dengan melibatkan guru BK, guru mata pelajaran dan salah satu siswa kelas IX yang menunjukkan sikap mudah emosinya.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan layanan informasi bimbingan pribadi. Jenis penelitian yang dilaksanakan adalah penelitian tindakan bimbingan dan konseling (PTBK), yaitu meningkatkan stabilitas emosi siswa melalui bimbingan pribadi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi penurunan sikap mudah emosi dan cepat tersinggung dari salah satu siswa kelas IX. Hal ini dapat dilihat dari hasil pengamatan pada siklus I yang pencapaian persentase sebanyak -45,45% dan pada siklus II yaitu -81,81%. Oleh karena itu peneliti menyimpulkan bahwa layanan informasi bimbingan pribadi sangat cocok digunakan di dalam meningkatkan stabilitas emosi siswa kelas IX.
DAFTAR ISI
JUDUL
KATA PERSEMBAHAN
MOTTO
KATA PENGANTAR
ABSTRAK
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR LAMPIRAN
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Pembatasan Masalah Penelitian
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Asumsi
BAB II KAJIAN TEORI, KERANGKA TEORITIK, PERUMUSAN
HIPOTESIS
Kajian Teori
Pengertian Layanan Informasi
Tujuan Layanan Informasi
Alasan Penyelenggaraan Layanan Informasi
Asas-asas Layanan Informasi
Metode Layanan Informasi
Proses Pelaksanaan Pemberian Bantuan Melalui Layanan
Informasi
Pengertian Bimbingan Pribadi
Tujuan Bimbingan Pribadi
Aspek-Aspek Bimbingan Pribadi
Bentuk-Bentuk Layanan Bimbingan Pribadi
Ruang Lingkup Bimbingan Pribadi
Materi Layanan Bimbingan Pribadi
Pengertian Stabilitas Emosi
Ciri-Ciri Stabilitas Emosi
Faktor-Faktor Penyebab Stabilitas Emosi
Kerangka Teoritik
Perumusan Hipotesis
BAB III METODELOGI PENELITIAN
Pendekatan Penelitian
Sasaran Perbaikan
Seting dan Subjek Penelitian
Langkah-langkah Penelitian
Perencanaan
Pelaksanaan
Observasi
Refleksi
Teknik Analisis Data
BAB IV LAPORAN HASIL PENELITIAN
Hasil Penelitian
Refleksi Awal
Hasil Penelitian Siklus I
Perencanaan Tindakan
Pelaksanaan Tindakan
Pengamatan/Pengumpulan Data
Pelaksanaan Evaluasi
Refleksi
Hasil Penelitian Siklus II
Rencana Tindakan
Pelaksanaan Tindakan
Pengamatan/Pengumpulan Data
Pelaksanaan Evaluasi
Refleksi
Pembahasan
BAB V PENUTUP
Simpulan
Saran-Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAM
BAB I
PENDAHULUAN
Pada bab pendahuluan ini akan diuraikan secara berturut-turut : (1) Latar Belakang Masalah, (2) Pembatasan Masalah Penelitian, (3) Rumusan Masalah, (4) Tujuan Penelitian, (5) Manfaat Penelitian, dan (6) Asumsi.
Latar Belakang Masalah
Kalau akhir-akhir ini kita dilanda demam Vickynisasi dengan “labil ekonomi”nya, maka stabil emosi–atau istilah sebenarnya adalah stabilitas emosi–sangat tidak asing dalam dunia Psikologi.
Beberapa perusahaan yang pernah ditangani oleh Divisi Asesmen SDM PPM Manajemen dalam proses seleksi karyawan, sering menitipkan pesan bahwa mencari karyawan yang pintar secara akademik adalah perlu, namun mencari karyawan yang pandai mengelola emosinya adalah mutlak. Pesan ini bila ditarik maknanya adalah banyak perusahaan yang merasa bahwa kepandaian seseorang dalam mengelola emosi jauh lebih penting dibanding kepintaran secara keilmuan.
Di masyarakat awam, emosi acapkali disamakan dengan marah. Emosi bukanlah marah, marah hanyalah salah satu bentuk emosi. Emosi adalah perasaan yang bisa meliputi perasaan marah, sedih, senang, benci, bangga, kecewa, dan lain sebagainya.
Sering kita melihat fenomena orang-orang yang tidak mampu mengelola emosinya dengan baik. Hanya karena tersenggol bahunya oleh orang lain yang sedang terburu-buru, kemudian memaki-maki dan balas memukul. Atau saat kehabisan tiket pertunjukan kemudian bersikap anarkis dan membakar loket tiket. Betapa luapan emosi yang dilakukan sangat tidak sebanding dengan penyebab kejadiannya.
Kemampuan seseorang dalam mengelola emosi dikenal sebagai stabilitas emosi. Stabilitas yang dimaksud adalah reaksi individu, baik secara emosi maupun fisik, dapat diprediksi dan tidak mengejutkan. Individu yang memiliki stabilitas emosi yang baik adalah individu yang mampu memahami apa yang sedang ia rasakan dan mengekspresikannya secara tepat.
Sebaliknya, individu yang rendah stabilitas emosinya digambarkan sebagai individu yang sulit untuk mengenali apa yang sebenarnya ia rasakan, dan melampiaskan perasaannya dengan cara yang destruktif, sering meninggalkan luka bagi orang di sekitarnya dan berakhir pada keadaan yang tidak nyaman pada dirinya sendiri.
Oleh karena itu diperlukan bantuan dari konselor sekolah atau guru pembimbing untuk ikut berpartisipasi dalam mengawasi perkembangan peserta didiknya, terutama dalam perkembangan emosinya, karena kalangan SMP merupakan perkembangan yang sangat rentan terhadap timbulnya suatu masalah. Sebelum peserta didik berinteraksi dengan teman sebaya atau lingkungan sekitarnya, terlebih dahulu peserta didik harus mampu mengenali perkembangan emosinya sesuai dengan usianya.
Maka dari itu seorang konselor atau guru pembimbinglah yang mampu membantu segala aspek dan tugas-tugas perkembangan peserta didiknya sesuai dengan usianya.
Pembatasan Masalah Penelitian
Setiap petugas peneliti berkewajiban untuk menetapkan ruang lingkup dari penelitian yang dilaksanakan agar pembahasan menjurus pada suatu sasaran yang tepat, mengingat terbatasnya kemampuan, waktu dan biaya maka dalam penelitian ini diadakan suatu pembatasan atau alasan peneliti menerapkan layanan informasi bimbingan pribadi di dalam meningkatkan stabilitas emosi adalah sebagai berikut :
Alasan penyelenggaraan layanan informasi adalah karena siswa membutuhkan informasi yang relevan sebagai bekal dalam menghadapi berbagai macam dinamika kehidupan secara positif dan rasional, baik sebagai pelajar maupun anggota masyarakat. Terkait dengan penelitian ini, ada dua alasan penyelenggaraan layanan informasi.
Untuk membuktikan bahwa layanan informasi bisa meningkatkan pemahaman siswa terhadap potensi diri.
Disadari atau tidak siswa sangat membutuhkan informasi tentang pemahaman potensi diri sebagai modal awal dalam menggapai cita-cita dan tujuan hidup yang mereka inginkan.
Layanan informasi itu merupakan kebutuhan yang amat tinggi tingkatannya. Lebih-lebih apabila diingat bahwa “masa depan adalah abad informasi”, maka barang siapa tidak memperoleh informasi, maka ia akan tertinggal dan akan kehilangan masa depan.
Pelayanan informasi yaitu pemberian informasi tentang berbagai hal yang dipandang bermanfaat bagi peserta didik, melalui komunikasi langsung maupun tidak langsung (melalui media cetak maupun elektronik, seperti : buku, browsur, pamflet, majalah dan internet.
Peneliti terbatas pada “Implementasi Layanan Informasi Bimbingan Pribadi Untuk Meningkatkan Stabilitas Emosi Pada Siswa Kelas IX Di SMP Negeri 10 Denpasar Tahun Ajaran 2012/2013”. Dalam penelitian ini peneliti hanya memberikan layanan informasi bimbingan pribadi pada siswa yang sedang mengalami masa-masa perkembangan pribadi siswa terutama pada perkembangan emosinya.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah di atas permasalahan yang dapat dirumuskan dalam penelitian ini adalah, apakah penerapan layanan informasi bimbingan pribadi dapat meningkatkan stabilitas emosi siswa kelas IX SMP Negeri 10 Denpasar Tahun Ajaran 2012/2013 ?
Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah, untuk meningkatkan stabilitas atau keseimbangan emosi di kalangan siswa kelas IX SMP Negeri 10 Denpasar Tahun Ajaran 2012/2013.
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat baik secara teoritis maupun secara praktis. Adapun manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah :
1.5.1 Secara Teoritis
Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang positif terhadap pengembangan konsep-konsep ilmu pendidikan bimbingan konseling, terutama sebagai bahan acuan pelaksanaan penelitian yang relevan lebih lanjut.
1.5.2. Secara Praktis
Bagi sekolah adalah sebagai masukan untuk sekolah dalam membina dan mengawasi masa-masa perkembangan seluruh siswanya serta dapat bekerja sama dengan orang tua siswa untuk membantu keterlaksanaan segala perencanaan.
Bagi guru penelitian bagi guru bidang studi dan guru Bimbingan Konseling adalah sebagai acuan untuk mengidentifikasi siswa yang sedang dalam masa pertumbuhan dan perkembangan, baik itu dari segi psikisnya maupun fisiknya.
Bagi siswa adalah sebagai dorongan untuk bias berperilaku lebih dewasa, bisa menentukan mana perilaku yang tidak pantas untuk dilakukan oleh seorang siswa dan sebagai upaya menanamkan konsep diri positif bagi siswa.
Asumsi
Sebelum mengajukan asumsi akan dikemukakan pengertian asumsi. Menurut The Liang Gie mengemukakan bahwa “asumsi adalah keterangan yang sebenarnya diterima tanpa pembuktian lebih lanjut untuk menjadi dasar awal atau pegangan dalam suatu perbincangan (1980 : 126)”. Dalam penelitian ini asumsi yang digunakan adalah sebagai berikut :
Dalam pemberian layanan informasi bimbingan pribadi siswa mengikuti dengan baik dan aktif.
Interaksi dalam pemberian layanan informasi bimbingan pribadi berjalan dengan baik.
Dalam pemberian layanan informasi bimbingan pribadi, pemberian tanggung jawab kepada siswa sangat diperlukan.
BAB II
KAJIAN TEORI, KERANGKA TEORITIK DAN PERUMUSAN HIPOTESIS
Pada bagian ini akan diuraikan : (1) Kajian Teori, (2) Kerangka Teoritik, dan (3) Perumusan Hipotesis.
Kajian Teori
Pengertian Layanan Informasi
Menurut Prayitno & Erman Amti (2004:259-260) layanan informasi adalah kegiatan memberikan pemahaman kepada individu-individu yang berkepentingan tentang berbagai hal yang diperlukan untuk menjalani suatu tugas atau kegiatan, atau untuk menentukan arah suatu tujuan atau rencana yang dikehendaki. Dengan demikian, layanan informasi itu pertama-tama merupakan perwujudan dari fungsi pemahaman dalam bimbingan dan konseling.
Menurut Budi Purwoko (2008:52) penyajian informasi dalam rangka program Bimbingan ialah kegiatan membantu siswa dalam mengenali lingkungannya, terutama tentang kesempatan-kesempatan yang ada didalamnya, yang dapat dimanfaatkan siswa baik untuk masa kini maupun masa yang akan datang.
Sedangkan Winkel & Sri Hastuti (2006:316-317) menjelaskan bahwa layanan informasi adalah usaha untuk membekali para siswa dengan pengetahuan tentang data dan fakta dibidang pendidikan sekolah, bidang pekerjaan dan bidang perkembangan pribadi-sosial, supaya mereka dengan belajar tentang lingkungan hidupnya lebih mampu mengatur dan merencanakan kehidupannya sendiri.
Dari beberapa pengertian tentang layanan informasi diatas dapat diambil kesimpulan bahwa layanan informasi adalah suatu kegiatan atau usaha untuk membekali para siswa tentang berbagai macam pengetahuan supaya mereka mampu mengambil keputusan secara tepat dalam kehidupannya.
Tujuan Layanan Informasi
Menurut Budi Purwoko (2008:52) tujuan yang ingin dicapai dengan penyajian informasi adalah sebagai berikut :
Para siswa dapat mengorientasikan dirinya kepada informasi yang diperolehnya terutama untuk kehidupannya, baik semasa masih sekolah maupun setelah menamatkan sekolah.
Para siswa mengetahui sumber-sumber informasi yang diperlukan.
Para siswa dapat menggunakan kegiatan kelompok sebagai sarana memperoleh informasi.
Para siswa dapat memilih dengan tepat kesempatan-kesempatan yang ada dalam lingkungannya sesuai dengan minat dan kemampuannya.
Sementara Ifdil menjelaskan tujuan layanan informasi ada dua macam yaitu secara umum dan khusus. Secara umum agar terkuasainya informasi tertentu sedangkan secara khusus terkait dengan fungsi pemahaman (paham terhadap informasi yang diberikan) dan memanfaatkan informasi dalam penyelesaian masalahnya. Layanan informasi menjadikan individu mandiri yaitu memahami dan menerima diri dan lingkungan secara positif, objektif dan dinamis, mampu mengambil keputusan, mampu mengarahkan diri sesuai dengan kebutuhannya tersebut dan akhirnya dapat mengaktualisasikan dirinya.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan layanan informasi adalah supaya para siswa memperoleh informasi yang relevan dalam rangka memilih dan mengambil keputusan secara tepat guna pencapaian pengembangan diri secara optimal.
Dalam penelitian ini tujuan dari layanan informasi adalah membekali siswa dengan berbagai informasi tentang potensi diri sehingga siswa mampu meningkatkan pemahaman potensi diri guna mencapai kualitas hidup yang lebih baik.
Alasan Penyelenggaraan Layanan Informasi
Menurut Prayitno & Erman Amti (2004:260-261) ada tiga alasan utama mengapa layanan informasi perlu diselenggarakan :
Membekali individu dengan berbagai macam pengetahuan tentang lingkungan yang diperlukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi berkenaan dengan lingkungan sekitar, pendidikan, jabatan, maupun sosial budaya.
Memungkinkan individu dapat menentukan arah hidupnya “kemana dia ingin pergi”. Syarat dasar untuk dapat menentukan arah hidup adalah apabila ia mengetahui apa (informasi) yang harus dilakukan serta bagaimna bertindak secara kreatif dan dinamis berdasarkan atas informasi-informasi yang ada itu.
Setiap individu adalah unik.
Sedangkan Winkel &Sri Hastuti (2006:317) menjelaskan, ada tiga alasan pokok mengapa layanan pemberian informasi merupakan usaha vital dalam keseluruhan program bimbingan yang terencana dan terorganisasi.
Siswa membutuhan informasi yang relevan sebagai masukan dalam mengambil ketentuan mengenai pendidikan lanjutan sebagai persiapan untuk memangku jabatan dimasyarakat.
Pengetahuan yang tepat dan benar membantu siswa untuk berfikir lebih rasional tentang perencanaan masa depan dan tuntutan penyesuaian diri dari pada mengikuti sembarang keinginan saja tanpa memperhitungkan kenyataan dalam lingkungan hidupnya.
Informasi yang sesuai dengan daya tangkapnya menyadarkan siswa akan hal-hal yang tetap dan stabil, serta hal-hal yang akan berubah dengan bertambahnya umur dan pengalaman.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa alasan penyelenggaraan layanan informasi adalah karena siswa membutuhkan informasi yang relevan sebagai bekal dalam menghadapi berbagai macam dinamika kehidupan secara positif dan rasional, baik sebagai pelajar maupun anggota masyarakat. Terkait dengan penelitian ini, ada dua alasan penyelenggaraan layanan informasi.Pertama, untuk membuktikan bahwa layanan informasi bisa meningkatkan pemahaman siswa terhadap potensi diri.Kedua, disadari atau tidak siswa sangat membutuhkan informasi tentang pemahaman potensi diri sebagai modal awal dalam menggapai cita-cita dan tujuan hidup yang mereka inginkan.
Asas-asas Layanan Informasi
Layanan informasi sangat menuntut asas kegiatan dari peserta layanan, asas keterbukaan dan kesukarelaan. Asas kerahasiaan diperlukan jika informasi bersifat pribadi.
Metode Layanan Informasi
Menurut Prayitno &Erman Amti (2004:269-271) Pemberian informasi kepada siswa dapat dilakukan dengan berbagai cara sebagai berikut :
Ceramah
Ceramah merupakan metode pemberian informasi yang paling sederhana, mudah dan murah, dalam arti bahwa metode ini dapat dilakukan hampir oleh setiap petugas bimbingan disekolah.
Diskusi
Penyampaian informasi pada siswa dapat dilakukan melalui diskusi. Diskusi semacam ini dapat diorganisasikan baik oleh siswa sendiri mapun oleh konselor, atau guru.
Karya wisata
Dalam bidang konseling karyawisata mempunyai dua sumbangan pokok. Pertama, membantu siswa belajar dengan menggunakan berbagai sumber yang ada dalam masyarakat yang dapat menunjang perkembangan mereka. Kedua, memungkinkan diperolehnya informasi yang dapat membantu pengembangan sikap-sikap terhadap pendidikan, pekerjaan dan berbagai masalah dalam masyarakat.
Buku panduan
Buku-buku panduan (seperti buku panduan sekolah atau perguruan tinggi, buku panduan kerja bagi karyawan) dapat membantu siswa dalam mendapatkan informasi yang berguna.
Konferensi karir
Selain melalui teknik-teknik yang diutarakan diatas, penyampaian informasi kepada siswa dapat juga dilakukan melalui konferensi karier. Dalam konferensi karier para nara sumber dari kelompok-kelompok usaha, jawatan atau dinas lembaga pendidikan, dan lain-lain yang diundang, mengadakan penyajian berbagai aspek program pendidikan dan latihan/pekerjaan yang diikuti oleh para siswa.
Sedangkan menurut Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang (1993: 82) menjelaskan bahwa teknik yang digunakan dalam layanan informasi adalah sebagai berikut :
Ceramah
Diskusi atau Tanya jawab
Bacaan buku, selebaran dan brosur
Gambar, slide, pemutaran film
Karyawisata
Melalui mata pelajaran tertentu
Melalui kelas khusus
Hari karier
Hari perguruan tinggi
Wawancara dalam rangka konseling
Dari berbagai jenis metode yang digunakan dalam pemberian layanan informasi maka dalam penelitian ini metode yang akan digunakan adalah ceramah, diskusi/tanya jawab dan audio visual.
Proses pelaksanaan pemberian bantuan melalui Layanan informasi
Layanan informasi dapat diselenggarakan melalui ceramah, Tanya jawab dan diskusi yang dilengkapi dengan peragaan, selebaran, tayangan foto, film atau video, kunjungan ke perusahaan-perusahaan. Berbagai narasumber, baik dari sekolah sendiri atau dari sekolah lain, dari lembaga-lembaga pemerintah, maupun dari berbagai kalangan di masyarakat dapat diundang guna memberikan informasi kepada peserta didik. Namun perlu diingat bahwa semua kegiatan hendaknya direncanakan secara matang.
Layanan informasi dapat dilaksanakan secara individual, klasikal dan ataupun diselenggarakan secara umum. Dapat juga diberikan secara lisan ataupun seperti jurnal, majalah dan leaflet.
Layanan informasi juga banyak diperlukan oleh warga masyarakat di luar sekolah. Cara-cara penyajian informasi kepada warga masyarakat, sebagaimana cara-cara penyajian orientasi, juga amat tergantung pada jenis informasi yang diperlukan dan siapa yang memerlukannya. Perananan berbagai lembaga dimasyarakat baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta atas prakarsa masyarakat sendiri, termasuk di dalamnya LBH, Puskesmas, biro perjalanan, kursus-kursus, pusat-pusat pengembangan keterampilan dan pemberian jasa perlu ditonjolkan.
Pengertian Bimbingan Pribadi
Menurut Winkel &Sri Hastuti (2006: 118-119) bimbingan pribadi berarti bimbingan dalam memahami keadaan batinnya sendiri dan mengatasi berbagai pergumulan dalam batinnya sendiri, dalam mengatur diri sendiri dibidangkerohanian, perawatan jasmani, pengisian waktu luang, penyaluran nafsu seksual dan sebagainya.
Sedangkan Dewa Ketut Sukardi (1997: 23) menjelaskan bahwa bimbingan pribadi berarti membantu siswa menemukan dan mengembangkan pribadi yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, mantap dan mandiri serta sehat jasmani dan rohani.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa bimbingan pribadi adalah bimbingan yang dilakukan untuk membantu konseli atau siswa dalam memahami keadaan dirinya baik fisik maupun psikis, memahami akan makna diri sebagai makhluk Tuhan serta pemahaman akan segala kelebihan dan potensi diri yang dimiliki demi tercapainya kualitas hidup yang lebih baik.
Tujuan Bimbingan Pribadi
Menurut Winkel &Sri Hastuti (2006: 118-119) bimbingan pribadi berarti bimbingan dalam memahami keadaan batinnya sendiri dan mengatasi berbagai pergumulan dalam batinnya sendiri, dalam mengatur diri sendiri dibidangkerohanian, perawatan jasmani, pengisian waktu luang, penyaluran nafsu seksual dan sebagainya.
Sedangkan Dewa Ketut Sukardi (1997: 23) menjelaskan bahwa bimbingan pribadi berarti membantu siswa menemukan dan mengembangkan pribadi yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, mantap dan mandiri serta sehat jasmani dan rohani.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa bimbingan pribadi adalah bimbingan yang dilakukan untuk membantu konseli atau siswa dalam memahami keadaan dirinya baik fisik maupun psikis, memahami akan makna diri sebagai makhluk Tuhan serta pemahaman akan segala kelebihan dan potensi diri yang dimiliki demi tercapainya kualitas hidup yang lebih baik.
Aspek-Aspek Bimbingan Pribadi
Pengembangan pribadi siswa melalui pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah dan madrasah bisa diwujudkan melalui layanan bimbingan pribadi. Bimbingan pribadi adalah jenis bimbingan yang membantu para siswa dalam mengahadapi dan memecahkan masala-masalah pribadi. Diatas telah disebutkan bahwa masalah individu ada yang berkenaan dengan tuhannya dan ada yang berkenaan dengan dirinya sendiri. Bidang pengembangan pribadi siswa mencakup keduanya, yakni mengembangkan aspek-aspek kepribadian siswa yang menyangkut dengan tuhan dan dirinya sendiri.
Masalah atau problema individu yang berhubungan dengan tuhannya seperti sulit untuk menghadirkan rasa takut (takwa), rasa taat, dan rasa bahwa dia selalu mengawasi perbuatan individu. Akibat selanjutnya dari problem itu adalah timbul rasa malas dan enggan melakukan ibadah dan ketidakmampuan untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang dilarang dan dimurkai Allah Swt. Problem individu yang berkenaan dengan dirinya sendiri misalnya kegagalan bersikap disiplin dan bersahabat dengan hati nuraninya sendiri, yakni hati nurani yang selalu mengajak, menyeru dan membimbing kepada kebaikan dan kebenaran Tuhannya. Akibat lanjutnya adalah timbul sikap was-was, ragu-ragu, prasangka buruk, lemah motivasi, dan tidak mampu bersikap mandiri dalam melakukan segala hal.
Dalam situasi tertentu, kadang-kadang individu dihadapkan pada suatu kesulitan yang bersumber dari dalam dirinya sendiri. Masalah ini timbul karena individu merasa kurang berhasil dalam menghadapi dan menyesuaikan diri dengan hal-hal dalam dirinya. Konflik yang berlarut-larut, frustasi, dan neurosis merupakan sumber timbulnya masalah pribadi. Masalah pribadi juga timbul akibat individu gagal dalam mempertemukan antara aspek-aspek pribadi di satu pihak dan keadaan lingkungan di pihak lain.
Menurut Surya dan Winkel (1991), aspek-aspek persoalan individu yang membutuhkan layanan bimbingan pribadi adalah: (a) kemampuan individu memahami dirinya sendiri, (b) kemampuan individu mengambil keputusan sendiri, (c) kemampuan individu memecahkan masalah yang menyangkut keadaan batinnya sendiri, misalnya persoalan-persoalan yang menyangkut hubungannya dengan Tuhan.
Bentuk-Bentuk Layanan Bimbingan Pribadi
Ada beberapa macam bentuk layanan bimbingan pribadi, yaitu pertama, layanan informasi. Informasi tentang tahap-tahap perkembangan dapat mencakup perkembangan dapat menjakup perkembangan: (a) fisik, (b) motorik, (c) bicara, (d) emosi, (e) sosial, (f) penyesuaian sosial, (g) bermain, (h) kreativitas, (i)pengertian, (j) moral, (k) seks, (l) perkembangan kepribadian. Sedangkan informasi tentang keadaan masyarakat dewasa ini dapat mencakup informasi tentang: (a) ciri ciri masyarakat maju, (b)makilm pengetahuan, dan (c)pentingnya IPTEK bagi kehidupan manusia.
Kedua, pengumpulan data . data yang dikumpulkan berkenaan dengan layanan bimbingan pribadi dapat mencakup : (a) identitas individu seperti nama lengkap, nama panggilan, jenis kelamin, tempat tanggal lahir, agama, alamat, bahasa daerah, anak ke, orang tua dan lain-lain, (b) kejasmanian an kesehatan, (c) riwayat pendidikan, (d) prestasi, (e) bakat, (f) minat, dan lain-lain.
Ketiga, orientasi. Layanan orientasi bidang pengembangan pribadi mencakup: suasana, lembaga dan objek pengembangan pribadi seperti lembaga pengembangan bakat, pusat kebugaran, dan latihan pengembangan kemampuan diri, tempat rekreasi, dan lain sebagainya.
Ruang Lingkup Bimbingan Pribadi
Menurut Winkel & Sri Hastuti (2006: 118-119) bimbingan pribadi yang diberikan dijenjang pendidikan menengah dan pendidikan tinggi sebagian disalurkan melalui bimbingan kelompok dan sebagian lagi melalui bimbingan individual, serta mengandung unsur-unsur sebagai berikut :
Informasi tentang fase atau tahap perkembangan yang dilalui oleh siswa remaja dan mahasiswa, antara lain tentang konflik batin yang dapat timbul dan tentang tata cara bergaul yang baik. Termasuk disini apa yang disebut dengan sex education, yang tidak hanya mencakup penerangan seksual, tetapi pula corak pergaulan antara jenis kelamin.
Pengumpulan data yang relevan untuk mengenal keprbadian siswa, misalnya sifat-sifat yang tampak dalam tingkah laku, latar belakang keluarga dan keadaan kesehatan.
Rahman menjelaskan ruang lingkup materi bimbingan pribadi sebagai berikut:
Pemantapan sikap dan kepribadian yang agamis yang senantiasa mendekatkan diri kepada yang khaliq melalui peningkatan kualitas iman dan taqwa. Agama menjadi kendali utama dalam kehidupan manusia.
Pemahaman tentang kemampuan dan potensi diri serta pengembangannya secara optimal. Setiap manusia memiliki potensi yang luar biasa yang dikembangkan secara optimal dan hanya sedikit orang yang mau menyadari.
Pemahaman tentang bakat dan minat yang dimiliki serta penyalurannya. Setiap orang memiliki bakat dan minat, namun hal itu kurang mendapat perhatian sehingga penyaluran dan pengembangannya kurang optimal.
Pemahaman tentang kelebihan-kelebihan yang dimiliki serta bagaimana mengembangkannya. Setiap individu punya kelebihan, hal itu yang harus dijadikan sebagai fokus.
Pemahaman tentang kekurangan dan kelemahan yang dimiliki serta bagaimana mengatasinya. Memahami kekurangan diri mendorong seseorang untuk menyempurnakan diri.
Kemampuan mengambil keputusan serta mengarahkan diri sesuai dengan keputusan yang telah diambil. Keberanian mengambil keputusan secara cepat dan tepat perlu dilatih dan dikembangkan.
Perencanaan dan pelaksanaan hidup sehat, kreatif, dan produktif. Pola hidup dan pola pikir yang sehat akan menjadikan pribadi yang sehat dan berkualitas (http://abudaud2010.blogspot.com/2010).
Dalam bidang bimbingan pribadi, Prayitno (1998:63) merinci ruang lingkup bimbingan pribadi menjadi pokok-pokok berikut :
Pemantapan sikap dan kebiasaan serta pengembangan wawasan dalam beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Pemantapan pemahaman tentang kekuatan diri dan pengembangannya untuk kegiatan-kegiatan yang kreatif dan produktif, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun untuk peranannya di masa depan.
Pemantapan pemahaman tentang bakat dan minat pribadi serta penyaluran dan pengembangannya pada / melalui kegiatan-kegiatan yang kreatif dan produktif.
Pemantapan pemahaman tentang kelemahan diri dan usaha-usaha penanggu-langannya.
Pemantapan kemampuan mengambil keputusan.
Pemantapan kemampuan mengarahkan diri sesuai dengan keputusan yang telah diambilnya.
Pemantapan dalam perencanaan dan penyelenggaraan hidup sehat baik secara rohaniah maupun jasmaniah.
Hibana S. Rahman (2002:39) secara lebih rinci menjelaskan ruang lingkup materi bimbingan pribadi sebagai berikut :
Pemantapan sikap dan kepribadian yang agamis yang senantiasa mendekatkan diri kepada yang khaliq melalui peningkatan kualitas iman dan taqwa. Agama menjadi kendali utama dalam kehidupan manusia.
Pemahaman tentang kemampuan dan potensi diri serta pengembangannya secara optimal. Setiap manusia memiliki potensi yang luar biasa yang dikembangkan secara optimal dan hanya sedikit orang yang mau menyadari.
Pemahaman tentang bakat dan minat yang dimiliki serta penyalurannya. Setiap orang memiliki bakat dan minat, namun hal itu kurang mendapat perhatian sehingga penyaluran dan pengembangannya kurang optimal.
Pemahaman tentang kelebihan-kelebihan yang dimiliki serta bagaimana mengembangkannya. Setiap individu punya kelebihan, hal itu yang harus dijadikan sebagai fokus.
Pemahaman tentang kekurangan dan kelemahan yang dimiliki serta bagaimana mengatasinya. Memahami kekurangan diri mendorong seseorang untuk menyempurnakan diri.
Kemampuan mengambil keputusan serta mengarahkan diri sesuai dengan keputusan yang telah diambil. Keberanian mengambil keputusan secara cepat dan tepat perlu dilatih dan dikembangkan.
Perencanaan dan pelaksanaan hidup sehat, kreatif, dan produktif. Pola hidup dan pola pikir yang sehat akan menjadikan pribadi yang sehat dan berkualitas.
Aminudin Najib (1997:8) merinci ruang lingkup bimbingan pribadi menjadi pokok-pokok berikut :
Pemantapan sikap, kebiasaan dan wawasan dalam beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Memantapkan pemahaman tentang kekuatan diri dan pengembangannya.
Pemantapan pemahaman tentang bakat dan minat pribadi serta penyaluran dan pengembangannya.
Pemantapan pemahaman tentang kelemahan diri dan usaha-usaha pengentasan /pemecahannya.
Pemantapan kemampuan menerima dan mengarahkan diri.
Pemantapan kemampuan mengambil keputusan.
Pemantapan dalam perencanaan dan penyelenggaraan hidup sehat baik secara rohaniah maupun jasmaniah.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bimbingan pribadi ini memuat pokok-pokok sebagai berikut :
pemantapan sikap dan kebiasaan serta pengembangan wawasan dalam beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME merupakan usaha bantuan yang diberikan dalam hal pembenahan diri terkait dengan masalah kepercayaan diri dan keyakinan terhadap sang pencipta.
Bimbingan pribadi diberikan guna memberikan pemahaman kepada siswa/klien terhadap kemampuan yang di milikinya serta potensi-potensi yang ada dalam dirinya untuk dikembangkan guna menjalankan hidup dan mencapai kualitas hidup yang lebih baik.
Dan dapat disimpulkan bahwa ruang lingkup bimbingan pribadi terdiri atas tujuh masalah yang menyangkut sikap, kekuatan diri, bakat-minat, kelemahan diri, penerimaan diri, pengambilan keputusan, dan perencanaan serta penyelenggaraan hidup sehat.
Materi Layanan Bimbingan Pribadi
Dalam pelaksanaannya, layanan bimbingan pribadi di sekolah disesuaikan dengan materi layanan bimbingan dan konseling. Aminudin Najib (1997) merinci ruang lingkup layanan bimbingan pribadi menjadi pokok-pokok berikut :
Pemantapan sikap, kebiasaan dan wawasan dalam beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Memantapkan pemahaman tentang kekuatan diri dan pengembangannya.
Pemantapan pemahaman tentang bakat dan minat pribadi serta penyaluran dan pengembangannya.
Pemantapan pemahaman tentang kelemahan diri dan usaha-usaha pengentasan /pemecahannya.
Pemantapan kemampuan menerima dan mengarahkan diri.
Pemantapan kemampuan mengambil keputusan.
Pemantapan dalam perencanaan dan penyelenggaraan hidup sehat baik secara rohaniah maupun jasmaniah.
Prayitno dkk (1997) menjelaskan materi layanan bimbingan pribadi dibagi beberapa materi sebagai berikut.
Materi layanan bimbingan pribadi dalam layanan orientasi, meliputi orientasi tentang: (a) fasilitas penunjang ibadah keagamaan yang ada di sekolah, (b) acara keagamaan yang menunjang pengembangan kegiatan peribadatan, (c) hak dan kewajiban siswa (termasuk pakaian seragam), (d) bentuk layanan bimbingan dan konseling dalam membantu siswa mengenal kemampuan, bakat, minat dan cita-citanya serta usaha mengatasi berbagai permasalahan pribadi yang ditemui (di rumah, sekolah, dan di masyarakat), (e) fasiltias pelayanan kesehatan.
Materi bimbingan pribadi dalam layanan informasi, meliputi informasi tentang: (a) tugas-tugas perkembangan masa anak-anak, khususnya tentang kemampuan dan perkembangan pribadi, (b) perlunya pengembangan kebiasaan dan sikap dalam keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, (c) usaha yang dapat dilakukan dalam mengenal bakat, minat serta bentuk-bentuk pembinaan, pengembanan dan penyalurannya, (d) perlunya hidup sehat dan upaya melaksanakannya, (e) usaha yang dapat dilakukan melalui bimbingan dan konseling dalam membantu siswa menghadapi masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa remaja.
Materi bimbingan pribadi dalam layanan penempatann/ penyaluran, meliputi tentang: (a) posisi duduk dalam kelas yang sesuai dengan kondisi fisik dan pribadi siswa, (b) pilihan ketrampilan dan kesenian sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minat, (c) kegiatan ekstra-kurikuler yang dapat digunakan sebagai penunjang pengembangan kebiasaan dan sikap keagamaan, kemampuan, bakat, minat, dan cita-cita (seperti kegiatan pramuka, UKS, kesenian, olahraga).
Materi bimbingan pribadi dalam layanan pembelajaran, meliputi tentang: (a) kebiasaan dan sikap dalam beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, (b) pengenalan dan penerimaan perubahan, pertumbuhan, dan perkembangan fisik dan psikis yang terjadi pada diri sendiri, (c) pengenalan tentang kekuatan diri sendiri, bakat dan minat serta penyaluran dan pengembangannya, (d) pengenalan tentang kelemahan diri sendiri dan upaya penanggulangannya, (e) kemampuan mengambil keputusan dan pengarahan diri sendiri, (f) perencanaan dan penyelenggaraan hidup sehat.
Materi bimbingan pribadi dalam layanan konseling perorangan, meliputi tentang: (a) kebiasaan dan sikap dalam beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, (b) pengenalan dan penerimaan perubahan, pertumbuhan, dan perkembangan fisik dan psikis yang terjadi pada diri sendiri, (c) pengenalan tentang kekuatan diri sendiri, bakat dan minat serta penyaluran dan pengembangannya, (d) pengenalan tentang kelemahan diri sendiri dan upaya penanggulangannya, (e) kemampuan mengambil keputusan dan pengarahan diri sendiri, (f) perencanaan dan penyelenggaraan hidup sehat.
Materi bimbingan pribadi dalam layanan bimbingan kelompok, meliputi tentang: (a) kebiasaan dan sikap dalam beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, (b) pengenalan dan penerimaan perubahan, pertumbuhan, dan perkembangan fisik dan psikis yang terjadi pada diri sendiri, (c) pengenalan tentang kekuatan diri sendiri, bakat dan minat serta penyaluran dan pengembangannya, (d) pengenalan tentang kelemahan diri sendiri dan upaya penanggulangannya, (e) kemampuan mengambil keputusan dan pengarahan diri sendiri, (f) perencanaan dan penyelenggaraan hidup sehat.
Materi bimbingan pribadi dalam layanan konseling kelompok, meliputi tentang: (a) kebiasaan dan sikap dalam beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, (b) pengenalan dan penerimaan perubahan, pertumbuhan, dan perkembangan fisik dan psikis yang terjadi pada diri sendiri, (c) pengenalan tentang kekuatan diri sendiri, bakat dan minat serta penyaluran dan pengembangannya, (d) pengenalan tentang kelemahan diri sendiri dan upaya penanggulangannya, (e) kemampuan mengambil keputusan dan pengarahan diri sendiri, (f) perencanaan dan penyelenggaraan hidup sehat.
Berdasarkan keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa materi layanan bimbingan pribadi di sekolah diterapkan dalam tujuh jenis layanan dan empat kegiatan pendukung kegiatan bimbingan dan konseling.
Pengertian Stabilitas Emosi
Menurut Hurlock (1999) stabilitas emosi memiliki beberapa criteria yaitu emosi yang dapat diterima di dalam lingkungan sosial, emosi terhadap pemahaman diri dan emosi dalam penggunaan kecerdasan mental seseorang, yaitu :
Emosi secara sosial yang dapat diterima di lingkungan sosial.
Individu yang dapat mengontrol ekspresi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai sosial yang dimiliki di dalam dirinya yang dapat diterima di lingkungan sosial.
Emosi terhadap pemahaman diri.
Individu yang emosinya stabil mampu belajar dan mengontrol emosi sesuai dengan kebutuhan serta menyesuaikan diri di lingkungan sosial.
Emosi dalam penggunaan kecerdasan mental
Individu yang emosinya stabil mampu menilai situasi secara cermat sebelum memberikan respon secara emosional di lingkungannya.
Menurut Thorndike dan Hagen (dalam Chaturvedi & Chander, 2010) stabilitas emosi adalah karakteristik individu yang mencerminkan tentang keadaan suasana hati, niat, minat, optimis, keceriaan, ketenangan, perasaan keadaan yang baik, tidak merasa bersalah, khawatir atau kesepian, bebas dari rasa bersedih.
Sedangkan menurut Simon, stabilitas emosi adalah proses kepribadian seseorang untuk menunjukkan rasa emosional yang baik antara psikis maupun pribadi, bagaimana seseorang dapat mengembangkan dan memahami setiap masalah-masalah dalam kehidupan, mengembangkan pemikiran yang berorientasi pada realitas yang membantu dalam memahami realitas kehidupan.
Ciri-Ciri Stabilitas Emosi
Menurut Wahlroos (dalam Andriani, 2007) ciri-ciri stabilitas emosi adalah :
Tidak melukai diri sendiri atau orang lain dengan tindakan atau perkataan baik sadar atau tidak sadar, sebaliknya akan membantu orang lain atau dirinya sendiri dengan perkataannya.
Individu yang memiliki emosional yang sehat mempunyai konsep diri yang positif.
Dapat menunda pemenuhan kebutuhan.
Mampu mengevaluasi kenyataan emosional dan memahami perasaannya sendiri dan orang lain.
Dapat menjalin hubungan emosional yang mendalam dan tahan lama.
Fleksibel dan luas serta mau belajar dari pengalaman.
Memiliki antusiasme dan memiliki minat pada aspek kehidupan yang konstruktif dan menantang.
Menerima dengan senangdan mengidentifikasikan diri dengan semua umat manusia.
Terikat pada dirinya sendiri.
Faktor-Faktor Penyebab Stabilitas Emosi
Menurut Hurlock (1999) faktor yang mempengaruhi stabilitas emosi adalah :
Fisik.
Seseorang dalam kondisi sehat secara jasmani cenderung untuk tidak mudah marah dan cepat tersinggung. Individu akan merasa nyaman dan tentram dalam kondisi jasmaniahnya yang sehat, tapi individu menjadi cepat marah dan cepat tersinggung apabila ada salah satu anggota kondisi kurang sehat secara medis. Hal ini yang dapat menimbulkan individu cepat marah karena merasa ada sesuatu yang membuat dirinya tidak nyaman.
Kondisi lingkungan
Kondisi lingkungan tempat individu yang dapat menerima di lingkungan tersebut akan membuat individu mengalami stabilan dalam emosi, namun apabila lingkungan tidak dapat menerima kehadiran individu maka individu merasa tidak dianggap oleh lingkungan dan hal ini menyebabkan individu merasa tidak berharga.
Faktor lingkungan
Berdasarkan dari pengalaman individu bisa mengetahui bagaimana anggapan orang lain dalam berbagai macam ungkapan tentang emosi. Individu akan mempelajari bagaimana cara mengungkapan emosi yang dapat diterima di lingkungan sosial dan bagaimana emosi yang tidak dapat diteriman di lingkungan sosial. Hal ini berkaitan dengan kondisi norma budaya yang ada di lingkungan tempat tinggal individu. Individu mampu mempelajari kondisi lingkungan di tempat tinggal, antar satu daerah dengan daerah yang lain.
Kerangka Teoritik
Kemampuan seseorang dalam mengelola emosi dikenal sebagai stabilitas emosi. Stabilitas yang dimaksud adalah reaksi individu, baik secara emosi maupun fisik, dapat diprediksi dan tidak mengejutkan. Individu yang memiliki stabilitas emosi yang baik adalah individu yang mampu memahami apa yang sedang ia rasakan dan mengekspresikannya secara tepat.
Sebaliknya, individu yang rendah stabilitas emosinya digambarkan sebagai individu yang sulit untuk mengenali apa yang sebenarnya ia rasakan, dan melampiaskan perasaannya dengan cara yang destruktif, sering meninggalkan luka bagi orang di sekitarnya dan berakhir pada keadaan yang tidak nyaman pada dirinya sendiri.
Oleh karena itu diperlukan bantuan dari konselor sekolah atau guru pembimbing untuk ikut berpartisipasi dalam mengawasi perkembangan peserta didiknya, terutama dalam perkembangan emosinya, karena kalangan SMP merupakan perkembangan yang sangat rentan terhadap timbulnya suatu masalah. Sebelum peserta didik berinteraksi dengan teman sebaya atau lingkungan sekitarnya, terlebih dahulu peserta didik harus mampu mengenali perkembangan emosinya sesuai dengan usianya.
Maka dari itu seorang konselor atau guru pembimbinglah yang mampu membantu segala aspek dan tugas-tugas perkembangan peserta didiknya sesuai dengan usianya.
Perumusan Hipotesis
Hipotesis dapat diartikan sebagai dugaan sementara karena kebenarannya harus diuji dengan data empiris, walaupun hipotesis hanya diuji sementara, namun pengajuannya tidak dapat sembarangan (Rindjin, 1980:7). Berdasarkan kajian teoritis dan kerangka berpikir di atas dapat dirumuskan hipotesis dalam penelitian ini adalah : “Bahwa pemberian Layanan Informasi Bimbingan Pribadi dapat meningkatkan Stabilitas Emosi siswa kelas IX SMP Negeri 10 Denpasar tahun pelajaran 2012/2013 ”.
BAB III
METODELOGI PENELITIAN
Pada Bab III ini akan diuraikan : (1) pendekatan penelitian, (2) sasaran perbaikan, (3) seting dan subjek penelitian, (4) prosedur penelitian, dan (5) teknik analisis data.
Pendekatan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan bimbingan konseling yaitu suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan, yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan rasional dari tindakan-tindakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan yang dilakukannya itu, serta memperbaiki kondisi di mana praktek-praktek pembelajaran tersebut dilakukan (Stephenn Kemis, 1993:6).
Adapun tujuan dari penelitian ini menurut Mcniff, (1992:15) adalah bahwa dasar utama bagi dilaksanakannya penelitian tindakan adalah untuk perbaikan selain untuk perbaikan penelitian ini dilaksanakan untuk meningkatkan perilaku positif siswa. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan stabilitas emosi siswa melalui pemberian layanann informasi bimbingan pribadi.
Sasaran Perbaikan
Sasaran peningkatan stabilitas emosi bagi siswa melalui penelitian tindakan bimbingan konseling (PTBK). Pelaksanaannya mengikuti langkah-langkah PTK yaitu, merencanakan tindakan, melaksanakan tindakan dan merefleksikan. Setiap akhir siklus akan diadakan evaluasi untuk melihat sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan di dalam pelaksanaan konseling kelompok. Perbaikan layanan melalui penelitian tindakan bimbingan konseling dengan mengikuti prosedur seperti berikut :
__Merencanakan
Tindakan
__D. Refleksi B. Melaksanakan Tindakan
C. Mengamati/Observasi
Gambar 01 : Prosedur (PTBK) yang diadaptasi dari PTK
Seting dan Subjek Penelitian
Seting penelitian ini mengambil tempat di SMP Negeri 10 Denpasar kelas IX Tahun Pelajaran 2012/2013.
Waktu dan lamanya tindakan : Penelitian ini dilaksanakan selama 3 bulan pada saat pelaksanaan PPL-BKS. Dari bulan Agustus pertengahan sampai bulan November awal 2012.
Penelitian ini direncanakan akan dilaksanakan dalam dua (2) siklus, siklus 1 dilaksanakan dalam 2 minggu dengan frekuensi 2 kali pertemuan dan siklus 2 dilaksanakan berdasarkan refleksi terhadap siklus 1. Siklus ini dilaksanakan dalam 2 minggu frekuensi 2 kali pertemuan. Setelaj siklus 2 selesai direfleksi kembali.
Prosedur Penelitian
Pelaksanaan penelitian ini mengikuti tahapan dalam penelitian tindakan kelas yaitu merencanakan tindakan, melaksanakan tindakan, observasi dan refleksi. Tindakan yang dimaksud dalam hal ini adalah kegiatan yang dilakukan oleh konselor sebagai upaya meminimalisasi perilaku membolos siswa disaat layanan informasi bimbingan pribadi berlangsung. Adapun langkah-langkah yang ditempuh adalah sebagai berikut :
_Permasalahan Altenative Pelaksanaan
__ Pemecahan (rencana) tindakan I
___Refleksi Analisis data Observasi
SIKLUS I
_Permasalahan Alternative Pelaksanaan
_ Pemecahan (rencana) tindakan II
_
__Refleksi Analisis data II Observasi
SIKLUS II
Perencanaan Tindakan
Tahap perencanaan dilaksanakan di awal siklus. Perencanaan yang dilakukan pada tahap ini adalah :
Menyusun rencana konseling
Rencana konseling yang disusun dalam penelitian ini yaitu :
Membuat rencana satuan layanan informasi bimbingan pribadi seperti terlampir.
Menyiapkan ruangan untuk konseling
Meminta ijin kepada wali kelas IX
Memberikan konseling dari awal penelitian sampai selesai di dalam penerapan layanan informasi bimbingan pribadi untuk meningkatkan stabilitas emosi dan dilakukan secara berulang kepada siswa subjek penelitian.
Meminta ijin dan bimbingan kepada kepala sekolah, guru BK, guru wali kelas untuk melakukan penelitian skripsi dengan subjek penelitian.
Menggali atau mengumpulkan data dari dokumen guru BK dan guru wali kelas tentang subjek yang diteliti.
Menghubungi Guru BK berkenaan dengan peminjaman ruang BK yang akan digunakan untuk melaksanakan konseling siswa dalam meningkatkan stabilitas emosi siswa.
Menghubungi/memintakan ijin siswa kepada guru mata pelajaran dan wali kelas dan memohon bantuan dalam tahap observasi.
Pelaksanaan Tindakan
Adapun kegiatan-kegiatan yang ditempuh dalam pelaksanaan tindakan ini adalah :
Siswa yang masih belum bisa mengendalikan emosinya dipanggil untuk diberikan konseling di ruangan guru BK. Pelaksanaan tindakan konseling ini diimplementasikan dalam bimbingan pribadi. Tahap pelaksanaan tindakan ini dirancang dalam 2 siklus, siklus I dilakukan dalam 4 kali pertemuan, siklus II dilakukan dalam 2 kali pertemuan.
Observasi
Observasi adalah alat control atau penilaian terhadap tingkah laku atau kegiatan yang diamati. Melalui observasi ini dapat mengetahui bagaimana tingkah laku siswa tersebut setelah diberikan tindakan. Pada penelitian ini observasi untuk siswa dilakukan bersama-sama dengan guru pembimbing di kelas IX hasil observasi awal ditemukan siswa kelas IX dalam mengendalikan emosinya selama 1 bulan.
Tabel 01 : Hasil observasi awal di kelas IX
No
Nama (Inisial)
Jumlah perilaku mudah marahnya
1
AD
5
Refleksi
Hasil pemantauan dan evaluasi putaran I direfleksikan untuk tindakan selanjutnya. Kegiatan ini dilakukan sebagai masukan terhadap tindakan yang dilakukan pada siklus I, yang sekaligus sebagai perbaikan pada siklus berikutnya.
Teknik Analisis Data
Untuk mengetahui persentase peningkatan stabilitas emosi yang dicapai siswa maka dilakukan analisis kuantitatif yaitu penganalisaan data yang diperoleh melalui penggambaran dengan kata-kata atau kalimat dipisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan (Suharsini Arikunto, 1992:207)
Menghitung persentase peningkatan skor dengan rumus :
P=Postrate-Baserate x 100
Baserate
(Edi Legowo, 1991:12)
Keterangan :
P : Persentase perubahan (%)
Postrate : Penilaian setelah perlakuan (tindakan)
Baserate : Penilaian sebelum perlakuan (tindakan)
Membandingkan persentase pencapaian dengan kategori keberhasilan anak. Adapun kategori keberhasilan anak mencapai peningkatan perkembangan perilaku adalah sebagai berikut :
100 % - 90 % = Sangat tinggi
89 % - 80 % = Tinggi
79 % - 65 % = Cukup
64 % - 55 % = Rendah
54 % - 0 % = Sangat rendah
(Depdiknas, 2006:20)
BAB IV
LAPORAN HASIL PENELITIAN
Pada bab IV ini akan diuraikan : (1) Hasil penelitian
Hasil Penelitian
Refleksi Awal
Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 10 Denpasar pada siswa kelas IX sebagai subjek penelitian. Siswa kelas IX yang menunjukkan perilaku mudah emosi akan ditetapkan sebagai subjek yang akan dikenai tindakan melalui bimbingan pribadi. Untuk memperoleh data tentang siswa yang memiliki perilaku mudah emosi, mudah tersinggung peneliti melakukan observasi terlebih dahulu pada saat peneliti melaksanakan praktek PPL-BKS selama 3 bulan di kelas IX. Data yang diperoleh dari hasil pelaksanaan praktek PPL-BKS selama 3 bulan di SMP Negeri 10 Denpasar dianalisis dengan analisis kuantitatif. Adapun rumus yang digunakan adalah :
P=Postrate-Baserate x 100
Baserate
Keterangan :
P : Persentase perubahan (%)
Postrate : Penilaian setelah perlakuan (tindakan)
Baserate : Penilaian sebelum perlakuan (tindakan)
Tabel 02. Hasil Analisis Terhadap Perilaku Membolos Siswa Kelas IX
Sebelum Tindakan
No
Nama
(Inisial)
Jenis Kelamin
Jumlah Perilaku Mudah Emosi dalam kurun waktu sebulan pra siklus
Jumlah
L
P
Bulan 1
Bulan 2
Bulan 3
1
AD
L
5
6
5
16
Hasil Penelitian Siklus I
Beberapa langkah yang ditempuh dalan tindakan siklus I ini adalah (a) perencanaan tindakan, (b) pelaksanaan tindakan, (c) pengamatan/pengumpulan data, (d) pelaksanaan evaluasi, (e) refleksi.
Perencanaan Tindakan
Perencanaan dilakukan terlebih dahulu dengan menyiapkan satuan layanan informasi serta berkoordinasi dengan guru bimbingan konseling perihal akan dilakukan konseling individu terhadap salah satu orang siswa yang ditetapkan sebagai siswa yang bersikap mudah emosi dan cepat tersinggung. Selain itu peneliti juga harus menyiapkan ruangan serta kamera untuk kegiatan konseling.
Pelaksanaan Tindakan
Tindakan pada siklus I dilaksanakan mulai tanggal 2 Januari 2015-23 Januari 2015. Jadwal konseling dilakukan tidak tetap menyesuaikan dengan jadwal pelajaran, dalam artian apabila ada jam kosong konseling individual dapat dilakukan agar tidak mengganggu proses belajar mengajar di kelas. Pelaksanaan kegiatan konseling individual terhadap siswa yang bersikap mudah emosi adalah seperti table 03 berikut ini :
Tabel 03. Pelaksanaan Kegiatan Konseling Individual Terhadap Siswa yang Bersikap Mudah Emosi
No
Hari / Tanggal
Jam
Jenis Kegiatan
Tempat
Pelaksanaan
1
Jumat, 2 Januari 2015
Ke-5
Bimbingan Individu
Ruang BK
Peneliti
2
Jumat, 9 Januari 2015
Ke-5
Bimbingan Individu
Ruang BK
Peneliti
3
Jumat, 16 Januari 2015
Ke-5
Bimbingan Individu
Ruang BK
Peneliti
4
Jumat, 23 Januari 2015
Ke-5
Bimbingan Individu
Ruang BK
Peneliti
Pengamatan/Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan pada siklus I ini adalah data pemantauan berupa observasi yang dilakukan untuk mengetahui perubahan sikap mudah emosi siswa setelah dilakukan tindakan. Observasi ini dilakukan ketika anak berada di lingkungan sekolah atau pada saat PBM berlangsung. Apakah anak bisa bergaul dengan baik dengan teman-temannya di dalam kelas maupun di luar kelas serta dilihat dari daftar kasus anak di sekolah.
Pelaksanaan Evaluasi
Evaluasi dilakukan terhadap sikap siswa yang mudah emosi pada saat dan setelah penerapan layanan informasi bimbingan pribadi yang dilaksanakan dari tahap pertama dan kedua dengan melibatkan salah satu orang siswa. Evaluasi ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui hasil tindakan siklus I (pertama) dalam penerapan layanan informasi bimbingan pribadi.
Hasil evaluasi terhadap sikap siswa setelah diberikan tindakan I (pertama) layanan informasi bimbingan pribadi adalah sebagai berikut :
Tabel 04. Hasil Evaluasi Terhadap Sikap Mudah Emosi Siswa Setelah Tindakan pada Siklus I
No
Nama Siswa
Skor Bimbingan Pribadi
Kuantitas Perubahan
Persentase Penurunan
Sebelum Tindakan
Setelah Tindakan
1
AD
11
6
5
-45,45%
Untuk persentase keberhasilan tindakan siklus I siswa dihitung dengan rumus :
P=Postrate-Baserate x 100
Baserate
Keterangan :
P : Persentase perubahan (%)
Postrate : Penilaian setelah perlakuan (tindakan)
Baserate : Penilaian sebelum perlakuan (tindakan)
Grafik penurunan sikap mudah emosi siswa kelas IX dari salah satu orang siswa yang setelah diberikan layanan informasi bimbingan pribadi pada siklus I sebagai berikut :
__
Refleksi
Berdasarkan hasil evaluasi siklus I ternyata ada penurunan sikap mudah emosi pada siswa. Dari salah satu siswa yang diberikan layanan informasi bimbingan pribadi pada siklus I sudah Nampak terjadi penurunan sikap mudah emosinya. Namun untuk lebih mengurangi sikap emosi siswa maka akan dilakukan siklus II.
Hasil Penelitian Siklus II
Berdasarkan hasil evaluasi pada siklus I, diketahui salah satu orang siswa sudah menunjukan penurunan sikap mudah emosinya. Namun satu orang siswa tersebut masih perlu diberikan bimbingan individu pada siklus II. Beberapa langkah yang ditempuh dalam tindakan siklus II ini adalah (a) perencanaan tindakan, (b) pelaksanaan tindakan, (c) pengamatan / pengumpulan data, (d) pelaksanaan evaluasi, (e) refleksi.
Rencana Tindakan
Sesuai dengan hasil refleksi siklus I maka pelaksanaan tindakan pada siklus II ini peneliti merencanakan layanan informasi bimbingan individu terhadap salah satu siswa tersebut. Sebelum diadakan bimbingan individu terhadap satu orang siswa tersebut, terlebih dahulu disiapkan satuan layanan informasi bimbingan pribadi. Pelaksanaan bimbingan pribadi untuk siklus II dilaksanakan pada tanggal 26 Januari 2015 – 02 Februari 2015.
Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan kegiatan bimbingan pribadi terhadap siswa yang mudah emosi tersebut adalah seperti table 05 berikut ini :
Tabel 05. Pelaksanaan Kegiatan Bimbingan Pribadi Terhadap Siswa yang Mudah Emosi
No
Hari / Tanggal
Jam
Jenis Kegiatan
Tempat
Pelaksanaan
1
Senin, 26 Januri 2015
Ke-5
Bimbingan Individu
Ruang BK
Peneliti
2
Senin, 2 Februari 2015
Ke-5
Bimbingan Individu
Ruang BK
Peneliti
Pengamatan/Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan pada siklus II adalah data pemantauan berupa observasi yang dilakukan untuk mengetahui perubahan lebih optimal pada sikap mudah emosi siswa setelah dilakukan tindakan. Observasi ini dilakukan ketika anak berada di lingkungan sekolah atau pada saat PBM berlangsung. Apakah anak bisa bergaul lebih optimal lagi dengan teman-temannya serta dilihat dari daftar kasus siswa disekolah.
Pelaksanaan Evaluasi
Untuk mengetahui penurunan optimal sikap mudah emosi siswa dalam siklus II oleh peneliti dilaksanakan setelah penerapan layanan informasi bimbingan pribadi siklus II berakhir. Hasil evaluasi terhadap peningkatan stabilitas emosi siswa setelah diberikan layanan informasi bimbingan pribadi adalah sebagai berikut :
Tabel 06. Hasil Evaluasi Terhadap Sikap Mudah Emosi Siswa Setelah Tindakan pada siklus II
No
Nama Siswa
Skor Bimbingan Individu
Kuantitas perubahan
Persentase Penurunan
Sebelum Tindakan
Setelah Tindakan I
Setelah Tindakan I
1
AD
11
6
2
4
-81,81%
Grafik penurunan sikap mudah emosi siswa kelas IX dari salah satu siswa yang setelah diberikan layanan informasi bimbingan pribadi pada siklus II sebagai berikut :
_
Refleksi
Hasil evaluasi setelah pemberian bimbingan pribadi nampaknya dari salah satu siswa tersebut ternyata sudah ada penurunan sikap mudah emosinya dan stabilitas emosi sudah ada peningkatan. Sedangkan hasil observasi dikelas ketika PBM berlangsung dan di dalam lingkungan sekolah siswa tersebut juga sudah menampakkan sikap stabilitas emosinya. Hal ini membuktikan bahwa layanan informasi bimbingan pribadi dapat meminimalisasi sikap mudah emosinya.
Pembahasan
Dalam pembahasan atau diskusi ini akan diajukan persoalan sehubungan dengan hasil yang diperoleh dari pengamatan yang menyatakan bahwa dalam PBM baik di kelas maupun di luar kelas sering kali dijumpai siswa yang dalam pergaulannya sehari-hari menampakkan sikap cepat tersinggung dan mudah emosinya. Di dalam mengantisipasi sikap siswa tersebut sebenarnya guru BK dapat menggunakan strategi khusus untuk menangani siswa tersebut agar nantinya tidak berpengaruh terhadap hubungan sosialnya dengan teman sebaya dan lingkungan sekitarnya, yaitu melalui layanan informasi bimbingan pribadi. Bimbingan pribadi digunakan dalam penelitian ini guna meningkatkan stabilitas emosi siswa yang sedang menjalani masa perkembangannya. Dengan layanan informasi ini siswa yang menunjukkan sikap kurang dalam pengendalian emosinya diajak berbincang-bincang secara leluasa mengungkapkan alasannya mengapa ia bersikap seperti itu dan memberikan kesempatan kepadanya untuk menceritakan apa yang ia rasakan, masalah apa yang sedang ia alami dengan cara meyakinkan siswa tersebut bahwa dalam bimbingan pribadi ini terdapat asas kerahasiaan, sehingga siswa tidak canggung-canggung untuk menceritakan masalahnya.
Dari hasil pengamatan pada tindakan siklus I maupun tindakan siklus II dapat diperoleh bahwa terjadi penurunan sikap negatifnya. Dari hasil observasi secara langsung penurunan sikap negatifnya ini dapat dilihat dari sudah adanya perubahan dalam bersosialisasi dengan teman sebayanya saat di luar kelas dan sudah mampu memahami bagaimana bergaula yang sehat dengan teman sebayanya.
Hal ini menunjukkan bahwa bimbingan pribadi dapat berfungsi secara efektif dapat meminimalkan dan menanggulangi sikap negatifnya tersebut.
BAB V
PENUTUP
Pada bab V ini akan diuraikan : (1) Simpulan dan (2) Saran-saran
Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa layanan informasi bimbingan pribadi dapat meminimalisasikan sikap mudah emosi dan cepat tersinggung siswa kelas IX SMP Negeri 10 Denpasar. Penurunan tersebut dapat dilihat dari observasi yang dilakukan secara langsung bersama dengan guru BK dan guru mata pelajaran ketika PBM berlangsung di kelas.
Selain itu penurunan sikap mudah emosinya tersebut dapat dilihat dari hasil evaluasi siklus I dan siklus II. Disini dapat dilihat dari rata-rata persentase pada siklus I yaitu -45,45% dan pada siklus II -81,81%. Salah satu orang siswa tersebut yang dijadikan subjek sudah menunjukkan penurunan sikap negatifnya.
Dengan ini layanan informasi bimbingan pribadi dapat meningkatkan stabilitas emosi pada siswa kelas IX SMP Negeri 10 Denpasar.
Saran-Saran
Dari penelitian tindakan ini, beberapa saran yang akan disampaikan sebagai berikut :
Kepada siswa, diharapkan agar lebih meningkatkan pengendalian dirinya, baik itu dari segi emosi dan tindakannya agar kedepannya mampu bersosialisasi dengan teman sebaya dan lingkungan sekitar, serta mampu membangun kolega yang baik dengan lingkungan sekitar.
Kepada guru pembimbing di sekolah, bimbingan pribadi dapat digunakan dalam tata laksana pemberian bimbingan dan konseling di sekolah. Karena temuan penelitian ini menunjukkan peningkatan sikap positif siswa, maka guru pembimbing perlu mempertimbangkan penggunaan bimbingan pribadi khususnya kepada siswa yang masih belum bisa optimal dalam perkembangan pengendalian dirinya.
Kepada sekolah diharapkan agar bimbingan pribadi dimasukkan dalam tata laksana standar bimbingan konseling di sekolah, karena temuan penelitian ini membuktikan bahwa layanan informasi bimbingan pribadi dapat meningkatkan stabilitas emosi siswa kelas IX.
Kepada orang tua, diharapkan agar lebih memperhatikan perkembangan fisik dan psikis anaknya, terutama perkembangan sesuai usianya, karena usia remaja merupakan usia yang dimana perkembangan emosinya masih belum stabil, dan diharapkan agar orang tua dalam mendidik anaknya tidak terlalu menuntut, artinya tetap mengawasi, memperhatikan namun memberikan kesempatan kepada anak untuk bisa berpendapat dan mengekspresikan apa yang wajar dilakukan menurut usianya.